Senin, Agustus 10, 2015

Jurnal Pribadi : Serangan Eklampsia (penyakit Halilintar)

Pagi dini hari pukul 1.30 AM tanggal 28 Juli 2015 telah mengubah jalan hidup kami, aku terbangun mendengarkan seperti orang yang mau mual dan muntah, istriku terbaring kejang sekujur tubuh, tangan dan kakinya begitu juga mulutnya berbusa, panik dan khawatir yang kurasakan karena pada saat itu istri sedang mengandung 26 minggu buah hati kami yang ke 2 padahal sebelumnya jam 10.00 PM kami sudah memeriksakan istri ke klinik bersalin ibu dan anak dekat rumah tapi tidak dirujuk untuk mencegah kondisi ini.


Aku meminta pertolongan tetangga  dekat rumah untuk ikut membantu mengangkat istri ke mobil untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat, karena kontrol kehamilan setiap bulan di rumah sakit Eka Hospital BSD maka aku segera meluncur ke Unit Gawat Darurat rumah sakit tersebut sekitar 10 menit aku tiba di UGD, tim dokter jaga dengan cekatan memberikan pertolongan pertama pada istri ku sementara aku sambil menggendong anak pertama aku mengisi beberapa hal yang dibutuhkan oleh pihak rumah sakit, tak lama kemudian dokter kandungan memutuskan untuk menjalankan tindakan SC untuk menyelamatkan jiwa istriku secepatnya, lemas rasanya dan pasrah karena aku tahu dokter pasti mengetahui yang terbaik dalam kondisi seperti ini.


Setelah mendapatkan persetujuanku, istri langsung dilarikan ke ruang operasi dan melahirkan si kecil Handrian tepat jam 4.19 pagi, dengan berat 970 gram dan panjang 35 cm; team dokter anak mengkomunikasikan kondisi si anak harus dirawat dalam perawatan intensive (NICU) dan sebelumnya meminta persetujuan pemberian surfactan agar baru-parunya dapat berkerja. saat itu kondisi bayi lahir dengan cukup oksigen dan terus dipantau hingga saat ini masih dibantu ventilator; sementara aku ingin mengetahui kondisi si ibu pasca operasi, team dokter menginformasikan si ibu masih dalam pengaruh anastesi, tekanan darah tinggi yang terjadi karena kehamilan atau eklampsia (karena sudah mengalami kejang/koma) sudah menurun tekanannya tetapi masih terbilang cukup tinggi yakni 160/100 sehingga perlu dirawat secara intensive di ICU hingga tekanan darahnya stabil, serangan eklampsia tersebut juga menyebabkan kemungkinan kerusakan pada mata, ginjal dan syaraf sehingga perlu dikonsul ke dokter terkait agar memastikan tidak terjadi kerusakan berat disana dan terimakasih pada Tuhan masih melindungi istriku tidak terjadi hal yang fatal padanya, istri dirawat hingga 4 hari lamanya dirawat di ruang ICU dan baru pada hari ke 5 hingga ke 6 sudah dirawat dikamar biasa puji Tuhan akhirnya bisa meninggalkan rumah sakit tanggal 3 Agustus 2015 dirawat jalan dan tetap dimonitor kondisinya hingga saat ini, istri rutin memeriksakan tensi darah dengan alat tensimeter dirumah, pertolongan pertama yang diberikan pihak rumah sakit sangat menolong nyawa si ibu juga bayi terimakasih team UGD juga team dokter yang telah membantu kami.


Saat ini kami masih memantau perkembangan si kecil Han mudah-mudahan Tuhan menyertainya dan memberikan mukjizat agar dia dapat bertumbuh menjadi anak yang sehat dan berkumpul kembali dengan kami sekeluarga, kami juga berterimakasih kepada pimpinan perusahaanku berkerja pada Pak Herry Andriejansen, Pak Yakup, Bu Susi, Bu Hetty, Koh Akim dan Istri juga para dermawan dan sanak family, KW Moms yang membantu kami meringankan kesulitan kami ini dan memohon agar dokter juga suster yang merawat putra kami diberikan kesabaran dan petunjukNya agar putra kami menjadi bayi yang sehat.

Salam,

Freby dan Desi
Posting Komentar